Issue, Situbondo — Kontestasi kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Situbondo mulai menjadi perhatian. KH. Zakariya Al Ansori, S.Ag., M.Si., Wakil Katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Situbondo, menyatakan kesiapannya untuk mengemban amanah sebagai Ketua PCNU Situbondo apabila memperoleh kepercayaan melalui mekanisme organisasi.
Pernyataan tersebut menunjukkan kesediaannya untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam jam’iyah Nahdlatul Ulama. Bagi KH. Zakariya, kepemimpinan bukan semata-mata tentang jabatan, melainkan komitmen untuk menjaga organisasi dan memperkuat pengabdian kepada para kiai serta warga Nahdliyin.
“Pada prinsipnya, saya siap apabila diberikan amanah dan kepercayaan untuk menjadi Ketua PCNU Situbondo. Bagi saya, jabatan dalam organisasi bukan sekadar kedudukan, melainkan tanggung jawab dan bentuk pengabdian kepada jam’iyah Nahdlatul Ulama, para kiai, serta seluruh warga Nahdliyin,” ujarnya, Jumat (16/10/2026).
Menurut KH. Zakariya, semangat khidmah atau pengabdian harus menjadi landasan dalam menjalankan kepemimpinan NU. Prinsip tersebut perlu diwujudkan melalui upaya menjaga persatuan, merawat tradisi Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, dan memperkuat kontribusi organisasi dalam kehidupan masyarakat.
Sebagai Wakil Katib PCNU Situbondo, KH. Zakariya merupakan bagian dari struktur yang turut menjalankan tanggung jawab organisasi. Posisi tersebut menjadi bagian dari kiprahnya di lingkungan NU, sekaligus berkaitan dengan upaya menjaga kesinambungan roda jam’iyah.
Ke depan, penguatan konsolidasi internal menjadi salah satu hal yang penting bagi keberlangsungan PCNU Situbondo. Sinergi antara pengurus, lembaga, badan otonom, dan struktur organisasi di tingkat bawah diperlukan agar pelaksanaan program berjalan terarah serta mampu menjawab kebutuhan warga Nahdliyin.
Di samping konsolidasi, NU juga memiliki ruang pengabdian yang luas melalui bidang pendidikan, dakwah, sosial, dan pemberdayaan ekonomi umat. Penguatan sektor-sektor tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat organisasi, terutama dalam menjawab persoalan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.
Kepemimpinan yang kuat juga membutuhkan kemampuan membangun komunikasi dan menjaga soliditas di tengah perbedaan pandangan. Dengan mengutamakan kepentingan jam’iyah, dinamika organisasi diharapkan tetap berlangsung dalam semangat persaudaraan dan tanggung jawab bersama.
“Yang paling penting bagi saya adalah bagaimana NU semakin kuat, solid, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Siapa pun yang nantinya mendapatkan amanah harus mengutamakan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan pribadi maupun kelompok,” demikian pernyataan yang disampaikan terkait harapan terhadap kepemimpinan PCNU Situbondo.
Kesiapan KH. Zakariya Al Ansori tersebut menjadi salah satu bagian dari dinamika kepemimpinan NU di Situbondo. Namun, pernyataan kesiapan seorang figur tidak serta-merta menentukan hasil akhir karena penetapan Ketua PCNU tetap mengikuti mekanisme dan ketentuan resmi organisasi.
Bagi warga Nahdliyin, dinamika ini dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat kebersamaan dan meneguhkan kembali orientasi perjuangan NU. Keberlanjutan organisasi tidak hanya ditentukan oleh figur pemimpin, tetapi juga oleh keterlibatan seluruh unsur jam’iyah dalam menjaga tradisi dan menjalankan pengabdian.
Dengan demikian, perhatian terhadap kepemimpinan PCNU Situbondo tidak berhenti pada munculnya nama-nama yang menyatakan kesiapan. Hal yang tidak kalah penting ialah memastikan proses organisasi berjalan sesuai aturan, menjaga persatuan, dan melahirkan kepemimpinan yang mampu membawa manfaat bagi warga Nahdliyin serta masyarakat luas.













