Issue, Bondowoso – PCNU Bondowoso mulai meletakkan arah gerakan organisasi untuk periode 2026–2031 melalui Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) I yang digelar di Pondok Pesantren Al Imam, Minggu (4/10/2026). Forum ini menjadi ruang konsolidasi untuk menerjemahkan visi besar NU Bondowoso ke dalam kerja organisasi yang lebih konkret.
Arah tersebut dirangkum dalam gagasan “Satu Gerakan Besar NU Bondowoso”. Lima pilar menjadi fondasinya, yakni menguatkan jam’iyah, merawat jamaah, menyiapkan kader, membangun kemandirian serta menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat.
Pilar pertama diarahkan pada pembenahan organisasi, mulai dari penguatan MWCNU dan ranting hingga administrasi digital serta pengembangan kader. Sementara pilar jamaah menyasar penguatan dakwah Aswaja An-Nahdliyah, optimalisasi masjid dan musala, pembinaan jamaah serta pemeliharaan tradisi NU.
Di sisi lain, kaderisasi ditempatkan sebagai investasi jangka panjang melalui regenerasi berjenjang yang menyasar pelajar, mahasiswa, perempuan dan kelompok muda. Sedangkan kemandirian ekonomi diarahkan melalui penguatan UMKM, ketahanan pangan, aset NU dan badan usaha.
Pilar terakhir adalah kemanfaatan. Agenda pendidikan, kesehatan, sosial dan kemanusiaan diproyeksikan menjadi ruang bagi NU untuk memastikan keberadaan organisasi memiliki dampak yang dapat dirasakan langsung masyarakat.
Dalam pembukaan Muskercab, Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid menilai forum tersebut menjadi momentum strategis untuk menyusun program kerja yang tidak terlepas dari kepentingan umat dan pembangunan daerah.
“Forum ini merupakan wahana dan momentum strategis untuk menyusun program kerja organisasi yang berorientasi pada kemaslahatan umat dan kemajuan daerah,” ujarnya.
Abdul Hamid juga mendorong penguatan hubungan antara NU dan pemerintah daerah. Menurutnya, agenda pembangunan membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk organisasi keagamaan yang memiliki basis masyarakat cukup kuat.
“Sejalan dengan cita-cita besar NU untuk merawat jagat membangun peradaban, mari kita perkuat semangat kebersamaan, kemandirian ekonomi, dan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Bondowoso,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa persoalan pembangunan tidak dapat diselesaikan secara sendiri-sendiri. “Pekerjaan ini bukan sesuatu yang sederhana dan tidak bisa dikerjakan sendirian. Dibutuhkan tekad, kerja sama, serta saling mendukung dalam berikhtiar dan memberikan pengabdian terbaik,” tegasnya.
Sementara itu, Rais Syuriah PCNU Bondowoso KH Abdul Qodir Syam memberikan tekanan pada dimensi pengabdian di balik struktur organisasi. Menurutnya, posisi dalam kepengurusan tidak seharusnya menjadi ukuran utama, karena nilai seseorang justru ditentukan oleh kontribusinya.
“Tempat bukanlah satu-satunya ukuran kemuliaan seseorang. Justru, kemuliaan dapat diwujudkan melalui aktivitas dan kontribusi yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” ungkapnya.
KH Abdul Qodir juga mengingatkan pentingnya menjaga kekuatan internal NU. Konsolidasi tidak cukup hanya dilakukan melalui rapat organisasi, tetapi harus diwujudkan dalam sikap saling membantu dan memperkuat antarjajaran.
“Untuk saling mendukung, saling menolong satu dengan yang lain, untuk memperkuat diri di dalam, di internal,” pesannya.
Di tengah tuntutan menjaga soliditas tersebut, ia juga mengingatkan jajaran NU agar mampu menghadapi gangguan dengan sikap yang bijaksana. “Yang menyakiti kita, kita lawan. Gangguan antara ulama, kita lawan. Kalau mampu bisa berislah, kita bisa berislah,” tegasnya.
Lima pilar yang dibawa PCNU Bondowoso pada akhirnya akan berhadapan dengan ukuran yang lebih nyata: apakah struktur semakin kuat, kader semakin siap, ekonomi umat semakin mandiri dan program sosial benar-benar memberikan manfaat. Karena itu, Muskercab bukan titik akhir penyusunan agenda, melainkan awal dari pembuktian kerja organisasi di tengah masyarakat.
KH Abdul Qodir pun meminta seluruh jajaran kepengurusan dan ulama menjadikan pengabdian sebagai dasar gerakan. “Karenanya kami mohon nantinya di seluruh jajaran kepengurusan, ulama, untuk melakukan upaya-upaya secara baik di masyarakat kita. Karena semua harus karena Allah,” pungkasnya.













