ISSUE, Situbondo – Perempuan santri harus memiliki keberanian untuk berkembang dan mengambil peran strategis dalam organisasi maupun kehidupan sosial. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Madrasah Kiai Fawaid dan Tarbiyah Camp yang digelar Rayon Istimewa IKMASS Situbondo di Pantai Berigheen, Kamis (8/10/2026).
Dalam kegiatan kaderisasi yang diikuti anggota baru IKMASS Situbondo tersebut, Nazilul Umami, Sekretaris Lembaga Pengembangan Organisasi dan SDM, hadir sebagai narasumber dengan membawakan materi bertajuk “Perempuan Berdaya: Kader Santri Tidak Terbelenggu Tradisi dan Stigmatisasi.”
Materi ini menyoroti pentingnya membangun kesadaran kritis perempuan santri agar tidak kehilangan kesempatan untuk berkembang akibat stigma sosial maupun tradisi yang membatasi ruang gerak mereka.
“Perempuan santri harus memiliki keberanian untuk mengembangkan potensi diri, berpikir kritis, dan mengambil peran dalam organisasi maupun masyarakat. Menjadi santri bukan alasan untuk membatasi ruang gerak perempuan, melainkan menjadi landasan untuk tumbuh dan memberikan manfaat yang lebih luas,” demikian pernyataan yang dapat digunakan sebagai draf kutipan narasumber.
Nazilul menekankan tema tersebut sebagai bagian dari upaya mendorong kader perempuan agar memiliki kepercayaan diri, kapasitas kepemimpinan, serta keberanian menyuarakan gagasan. Tradisi, menurut arah materi yang dibahas, perlu disikapi secara kritis tanpa meninggalkan nilai-nilai baik yang menjadi identitas pesantren.
Kegiatan ini menjadi bagian dari proses kaderisasi anggota baru IKMASS Situbondo. Selain memperkuat pemahaman ideologi dan identitas kesantrian, forum tersebut juga menjadi ruang pembelajaran untuk membangun kesadaran gender serta memperkuat posisi perempuan dalam gerakan organisasi.
Melalui kegiatan ini, IKMASS Situbondo diharapkan mampu melahirkan kader santri yang berdaya, kritis, dan berani melawan stigma yang menghambat kemajuan perempuan, sekaligus tetap berpegang pada nilai-nilai perjuangan dan pengabdian.













