ISSUE, Situbondo – Kepala Bagian Kemahasiswaan Universitas Ibrahimy Situbondo, Rohikim Mahtum, MH, menekankan pentingnya kemampuan manajemen isu dan konflik dalam dinamika organisasi mahasiswa. Penegasan tersebut disampaikan saat ia menjadi pemateri dalam kegiatan Pelatihan Kader Dasar (PKD) yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Tarbiyah Universitas Ibrahimy.
Dalam pemaparannya, Rohikim Mahtum menjelaskan bahwa organisasi mahasiswa merupakan ruang yang sarat dengan dinamika, mulai dari perbedaan cara pandang, kepentingan, hingga persoalan komunikasi internal. Kondisi tersebut, menurutnya, sangat berpotensi melahirkan isu dan konflik apabila tidak dikelola secara matang dan bijaksana.
Ia menegaskan bahwa isu yang dibiarkan tanpa pengelolaan yang tepat dapat berkembang menjadi konflik terbuka yang berujung pada melemahnya soliditas organisasi. Sebaliknya, konflik yang dikelola dengan pendekatan yang konstruktif justru dapat menjadi sarana pembelajaran, pendewasaan kader, serta peningkatan kualitas kepemimpinan mahasiswa.
“Mahasiswa sebagai aktor utama dalam organisasi harus mampu membaca situasi dan membedakan antara kritik yang membangun dengan isu yang bersifat provokatif. Di sinilah pentingnya manajemen isu dan konflik agar organisasi tetap berjalan sehat, produktif, dan berorientasi pada tujuan bersama,” ujar Rohikim Mahtum di hadapan peserta PKD.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa organisasi kemahasiswaan sejatinya merupakan laboratorium kepemimpinan. Melalui proses kaderisasi seperti Pelatihan Kader Dasar, mahasiswa tidak hanya dibekali pemahaman ideologis dan keorganisasian, tetapi juga keterampilan praktis dalam menghadapi persoalan nyata, termasuk pengambilan keputusan di tengah perbedaan dan tekanan.
Kehadiran Kepala Bagian Kemahasiswaan Universitas Ibrahimy sebagai pemateri dinilai memberikan nilai strategis dalam pelaksanaan PKD BEM Fakultas Tarbiyah. Materi manajemen isu dan konflik yang disampaikan diharapkan mampu memperkuat kapasitas kader dalam menjaga stabilitas organisasi, membangun budaya dialog yang sehat, serta menciptakan iklim organisasi yang dewasa dan solutif di lingkungan kampus.
Sumber Berita : BEM FAKULTAS TARBIYAH















