38 Tahun IKSASS: Kebesaran yang Diwarisi, Amanah yang Harus Diteruskan

- Wartawan

Kamis, 1 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Issue, Situbondo – Tiga puluh delapan tahun perjalanan IKSASS bukan sekadar angka yang bertambah dalam catatan sejarah organisasi. Di balik usia tersebut terdapat jejak panjang para masyaikh, para alumni, dan antargenerasi yang telah memberikan tenaga, pikiran, doa, serta pengabdian hingga IKSASS tumbuh menjadi ruang perjuangan bersama.

Kesadaran itu kembali mengemuka dalam Tasyakuran dan Do’a Bersama HARLAH IKSASS ke-38 yang mengangkat tema “Merawat Mahabbah, Menjaga Sanad Perjuangan”, Kamis, 1 Oktober 2026, di Aula Lantai II Pusat IKSASS.

KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, Ketua Umum Majelis Syuri Pusat IKSASS sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, membawa peringatan tersebut pada persoalan yang lebih dalam: bagaimana hubungan seorang santri dengan gurunya tidak berhenti pada ingatan, tetapi terus hidup sebagai ikatan ruhani.

Menurutnya, sanad pengabdian kepada guru perlu dirawat sebagai bagian dari kehidupan seorang santri. Hubungan tersebut bahkan melampaui hubungan biologis, sebab seorang guru tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga mendidik dengan keteladanan.

“Rawatlah rābithah īmāniyah ini. Rawatlah rābithah rūhiyah ini. Yang jauh melampaui rābithah jasadiyah.”

Pesan tersebut menemukan relevansinya dalam perjalanan IKSASS. Sebab organisasi yang diwarisi oleh generasi hari ini tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dibangun dari perjuangan orang-orang sebelumnya, dari fondasi yang diletakkan para guru, kemudian diteruskan oleh generasi setelahnya.

KH. Ach. Fadlail, Ketua Umum Majelis Tanfidzi Pusat IKSASS, menegaskan bahwa perjalanan 38 tahun tersebut merupakan hasil kerja lintas generasi.

“Antargenerasi, antarperiode, semuanya telah memberikan jasa dan kontribusi. Sehingga hari ini, kita berada dalam satu fase dan dapat merasakan serta menikmati besarnya organisasi ini sebagai lahan perjuangan kita bersama.”

Kalimat tersebut sekaligus membuka ruang perenungan bagi generasi sekarang. Ketika kebesaran organisasi telah diwariskan dan manfaatnya dapat dirasakan, pertanyaan berikutnya bukan lagi tentang apa yang telah diterima, melainkan apa yang akan diberikan.

Kiai Fadlail juga mengingatkan fondasi perjuangan yang dibangun Kiai Fawaid dalam mengorkestrasi organisasi Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.

“Di atas fondasi yang sedemikian kokoh dan kuat itulah, Kiai Haji Raden Ahmad Fawaid As’ad mengorkestrasi organisasi Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.”

Fondasi tersebut kemudian tidak berhenti sebagai peninggalan sejarah. Perjuangan itu diwariskan agar terus memiliki penerus.

“Bukti kebesaran dan keberhasilan beliau adalah ketika beliau mampu mewariskan semua itu sebagai medan jihad dan lahan perjuangan yang kemudian dilanjutkan oleh generasi penerus beliau, oleh zuriah beliau, KHR. Ach. Azaim Ibrahimy bersama Ny. Hj. Nursari As’ad.”

Di titik inilah makna HARLAH menjadi lebih dari sekadar seremoni tahunan. Setiap pertambahan usia organisasi sesungguhnya membawa pertanyaan tentang kualitas estafet yang sedang berlangsung.

“Kita mendapatkan amanah, mendapatkan kepercayaan dari guru kita bersama, KHR. Ach. Azaim Ibrahimy.”

Amanah itu kemudian diterjemahkan Kiai Fadlail sebagai aliran mahabbah dari guru yang semestinya menjadi energi untuk terus berkhidmah.

“Maknanya adalah bahwa hari ini kita telah mendapatkan aliran mahabbah, aliran cinta dari guru-guru kita semua. Untuk kemudian menjadi spirit bagi kita, menjadi motivasi bagi kita, untuk totalitas dalam khidmah di organisasi kita.”

Karena itu, ukuran keberhasilan generasi hari ini tidak semata-mata terletak pada seberapa besar mereka menikmati hasil perjuangan generasi terdahulu. Yang lebih penting adalah apakah generasi tersebut mampu menjaga kesinambungan perjuangan sehingga kelak memiliki sesuatu untuk diwariskan.

“Kebesaran dan keberhasilan yang telah kita bangun akan semakin menggurita, akan semakin membesar seperti bola salju yang terus menggelinding.”

Harapan itu bahkan diarahkan lebih luas. IKSASS diharapkan tidak hanya menjadi ruang pengabdian bagi warga dan alumni Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, tetapi mampu memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.

“Menjadi sebuah cahaya yang menerangi masyarakat, tidak hanya warga dan alumni Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, tetapi juga warga bangsa Indonesia, umat Islam Indonesia, bahkan mungkin warga bangsa dunia dan umat Islam dunia.”

Pada akhirnya, usia 38 tahun bukanlah garis akhir perjalanan IKSASS. Ia adalah satu titik dalam estafet panjang yang mempertemukan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

“Inilah cita-cita besar yang ada di tangan kita hari ini, yang harus kita lanjutkan sebagai sebuah estafet perjuangan dari guru-guru kita semuanya.”

Dari sana, mahabbah kepada kiai menemukan bentuknya yang paling nyata: bukan sekadar mengenang siapa yang telah berjasa, tetapi menjaga apa yang telah ditanam. Bukan hanya bangga menjadi bagian dari sebuah kebesaran, tetapi bersedia mengambil bagian dalam memperbesarnya.

Sebab setiap generasi pada akhirnya akan meninggalkan organisasi. Yang akan tinggal bukan sekadar nama, jabatan, atau masa kepengurusan, melainkan jejak tentang seberapa jauh amanah perjuangan para guru mampu diteruskan.

Berita Terkait

Satu Majelis, 21 Muqaddam: Hailalah Thoriqoh Attijaniyah Pererat Silaturahmi Tiga Kabupaten
Aremania Bondowoso Peringati Empat Tahun Kanjuruhan, Bunga Ditebar untuk Merawat Ingatan
Peringati Hari Kesaktian Pancasila 2026, Pemkab Pamekasan Gelar Upacara di Lapangan Mandhapa Agung
Dandim Pamekasan Pimpin Upacara Kenaikan Pangkat Prajurit
Dari Pendopo Ronggosukowati, Dandim Pamekasan Bersama Forkopimda, Teguhkan Nilai Kesaktian Pancasila
Gerebek Bilik Narkoba di Proppo, Polres Pamekasan Amankan Sabu, Sajam, dan 9 Unit Sepeda Motor
Ketua 2 Advokasi PMII Universitas Ibrahimy Soroti Legislator Situbondo Terjerat Narkoba
16 Tahun Bersama BRI, Mia Puji Astutik Terus Kembangkan Usaha di Bondowoso

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 09:38 WIB

Satu Majelis, 21 Muqaddam: Hailalah Thoriqoh Attijaniyah Pererat Silaturahmi Tiga Kabupaten

Kamis, 1 Oktober 2026 - 13:14 WIB

Aremania Bondowoso Peringati Empat Tahun Kanjuruhan, Bunga Ditebar untuk Merawat Ingatan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 11:51 WIB

Peringati Hari Kesaktian Pancasila 2026, Pemkab Pamekasan Gelar Upacara di Lapangan Mandhapa Agung

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:37 WIB

Dandim Pamekasan Pimpin Upacara Kenaikan Pangkat Prajurit

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:35 WIB

Dari Pendopo Ronggosukowati, Dandim Pamekasan Bersama Forkopimda, Teguhkan Nilai Kesaktian Pancasila

Berita Terbaru

Berita

Dandim Pamekasan Pimpin Upacara Kenaikan Pangkat Prajurit

Kamis, 1 Okt 2026 - 07:37 WIB