Prof. Halim Soebahar Raih Religious Leadership Award, Jejak Pengabdian di Tengah Umat Kembali Disorot

- Wartawan

Kamis, 20 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Issue, Jember — Dedikasi Prof. Dr. KH. Abdul Halim Soebahar, M.A. dalam bidang pendidikan, keagamaan, pesantren, dan kehidupan sosial mendapat apresiasi melalui The Religious Leadership, Education, and Social Harmony Award pada ajang Radar Jember Awards 2026.

Penghargaan tersebut diserahkan di Convention Hall Letkol dr. R.M. Soebandi Jember, Kamis (20/8/2026). Capaian itu menjadi bentuk pengakuan terhadap perjalanan panjang Prof. Halim yang selama ini menjalankan peran sebagai akademisi sekaligus tokoh keumatan.

Prof. Halim saat ini dipercaya sebagai Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur dan guru besar UIN KHAS Jember. Dua ruang pengabdian tersebut mempertemukan dirinya dengan berbagai persoalan pendidikan, keagamaan, sosial, serta dinamika masyarakat yang semakin kompleks.

Di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang dan pandangan beragam, kepemimpinan keagamaan dituntut tidak hanya memiliki kekuatan dalam menyampaikan pesan, tetapi juga mampu membangun jembatan antarkelompok.

Perbedaan pandangan, menurut semangat yang tercermin dari penghargaan tersebut, tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, perbedaan membutuhkan ruang dialog agar dapat dikelola menjadi kekuatan bersama.

Karena itu, pendidikan menjadi bagian penting dari upaya membangun kehidupan sosial yang lebih dewasa.

Pendidikan Islam tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Ada tanggung jawab untuk membentuk manusia yang memiliki karakter, akhlak, kepedulian sosial, sekaligus kemampuan memahami realitas kehidupan.

Nilai-nilai tersebut memiliki hubungan erat dengan tradisi pesantren yang selama ini menjadi salah satu fondasi pendidikan Islam di Indonesia.

Pesantren bukan hanya tempat seseorang mempelajari ilmu agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, kepedulian, dan kemampuan hidup bersama. Dari lingkungan semacam itulah nilai keilmuan kemudian diharapkan dapat dibawa ke tengah masyarakat.

Prof. Halim menjalani perjalanan pengabdian tersebut melalui berbagai ruang. Dunia akademik menjadi tempat mengembangkan gagasan, sementara kehidupan keumatan menjadi ruang untuk menguji bagaimana gagasan tersebut dapat memberikan manfaat nyata.

Di tengah perkembangan zaman, tantangan tersebut semakin besar. Masyarakat menghadapi perubahan teknologi, derasnya arus informasi, serta berbagai perbedaan yang mudah berkembang menjadi konflik di ruang publik.

Kehadiran pemimpin agama kemudian tidak cukup hanya sebagai pemberi jawaban atas persoalan keagamaan. Mereka juga dituntut memiliki kemampuan membaca perubahan sosial dan menghadirkan pendekatan yang mampu menjaga keseimbangan.

Menjaga kerukunan bukan berarti membuat semua orang berpikir sama. Kerukunan justru diuji ketika perbedaan hadir, tetapi masyarakat tetap mampu memilih jalan saling menghormati.

Dalam konteks tersebut, penghargaan yang diterima Prof. Halim memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar seremoni.

Penghargaan itu menjadi pengingat bahwa kepemimpinan keagamaan memiliki tanggung jawab sosial. Ilmu yang dimiliki seorang ulama semestinya tidak berhenti dalam forum akademik atau ruang pengajian, tetapi mampu diterjemahkan menjadi sikap dan tindakan yang memberi manfaat.

Begitu pula dengan kepemimpinan. Jabatan bukan hanya soal kewenangan, melainkan amanah untuk memastikan semakin banyak masyarakat yang mendapatkan manfaat dari keberadaan seorang pemimpin.

Karena itu, The Religious Leadership, Education, and Social Harmony Award dapat dimaknai sebagai penghormatan terhadap tiga hal yang saling berkaitan: kepemimpinan yang menuntun, pendidikan yang mencerdaskan, dan kehidupan sosial yang mampu merawat persaudaraan.

Pada akhirnya, penghargaan hanyalah sebuah simbol. Ukuran sesungguhnya terletak pada apa yang tumbuh dari perjalanan pengabdian tersebut.

Ilmu yang membuat manusia semakin rendah hati.
Kepemimpinan yang membuat masyarakat merasa terlindungi.
Dan keberagamaan yang menghadirkan keteduhan di tengah perbedaan.

Dari ruang akademik hingga kehidupan umat, perjalanan Prof. Halim memperlihatkan bahwa ilmu memiliki makna ketika ia keluar dari ruang teori dan hadir sebagai pengabdian.

Sebab seorang ulama tidak hanya meninggalkan pengetahuan, tetapi juga meninggalkan cara manusia belajar memahami sesamanya.

Berita Terkait

DiDampingi Wabup Sukri, Wagub Jatim Emil Dardak Sidak RSUD Mohammad Noer
Dandim Cup ke-XIV Dimulai, Turnamen Bola Voli Bergulir di Pamekasan
TNI Kuat Bersama Rakyat, Dandim Pamekasan Pimpin Upacara HUT ke-81
Muskercab I PCNU Bondowoso: Dari Lima Pilar hingga Tantangan Membuktikan Manfaat untuk Umat
Kunjungi Kodim Pamekasan, Danrem Berikan Arahan Ratusan Prajurit
Satu Majelis, 21 Muqaddam: Hailalah Thoriqoh Attijaniyah Pererat Silaturahmi Tiga Kabupaten
Aremania Bondowoso Peringati Empat Tahun Kanjuruhan, Bunga Ditebar untuk Merawat Ingatan
Peringati Hari Kesaktian Pancasila 2026, Pemkab Pamekasan Gelar Upacara di Lapangan Mandhapa Agung

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 13:01 WIB

DiDampingi Wabup Sukri, Wagub Jatim Emil Dardak Sidak RSUD Mohammad Noer

Senin, 5 Oktober 2026 - 12:56 WIB

Dandim Cup ke-XIV Dimulai, Turnamen Bola Voli Bergulir di Pamekasan

Senin, 5 Oktober 2026 - 04:13 WIB

TNI Kuat Bersama Rakyat, Dandim Pamekasan Pimpin Upacara HUT ke-81

Minggu, 4 Oktober 2026 - 12:24 WIB

Muskercab I PCNU Bondowoso: Dari Lima Pilar hingga Tantangan Membuktikan Manfaat untuk Umat

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 05:23 WIB

Kunjungi Kodim Pamekasan, Danrem Berikan Arahan Ratusan Prajurit

Berita Terbaru