Oleh : Arik Irawan (Ketua PK PMII Universitas Bondowoso)
ISSUE, Bondowoso – “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda,” kata Tan Malaka puluhan tahun silam. Sebuah kalimat sederhana, namun sarat makna yang kini terasa semakin asing di telinga generasi muda. Api idealisme yang dulu membakar semangat perubahan, kini tampak meredup—tergoda gemerlap pragmatisme dan ambisi pribadi.
Dahulu, pemuda adalah simbol perlawanan, motor penggerak sejarah, dan suara nurani bangsa. Dari Sumpah Pemuda 1928 hingga reformasi 1998, mereka berdiri di garis depan, bukan karena imbalan, melainkan karena panggilan jiwa untuk menegakkan kebenaran. Namun kini, di tengah derasnya arus kapitalisme dan godaan eksistensi digital, idealisme kerap menjadi komoditas yang bisa dinegosiasikan. Banyak yang dengan mudah menukar prinsip dengan nominal, menjual suara dengan harga, bahkan mengorbankan nurani demi “kesempatan” dan “kedekatan kekuasaan”.
Fenomena ini tidak sepenuhnya salah, tetapi sungguh mengkhawatirkan. Ambisi pribadi—yang semestinya menjadi bahan bakar untuk maju—seringkali berubah menjadi jerat yang membungkam nurani. Pemuda tidak lagi berjuang karena cita-cita kolektif, melainkan karena kepentingan diri. Dalam ruang publik, suara kritis mereka perlahan kehilangan daya dobrak, tergantikan oleh konten yang viral tapi dangkal.
Padahal, idealisme bukan sekadar sikap keras kepala atau romantisme masa muda. Ia adalah kompas moral yang membedakan antara hidup yang bermakna dan hidup yang sekadar berjalan. Ketika idealisme mati, maka matilah pula keberanian untuk bermimpi dan memperjuangkan yang benar.
Kita mungkin hidup di zaman yang menuntut realitas, di mana idealisme sering dianggap utopia. Namun justru di tengah gelapnya pragmatisme itulah api idealisme seharusnya menyala paling terang. Tan Malaka pernah memperingatkan bahwa bangsa tanpa pemuda idealis adalah bangsa yang kehilangan masa depannya. Pertanyaannya kini: masihkah kita menyimpan bara itu, ataukah sudah menjualnya kepada kenyamanan yang meninabobokan?
Di tangan pemuda, nasib bangsa selalu ditentukan. Tapi pilihan ada di tangan mereka sendiri—menjadi bara yang menghidupkan perubahan, atau abu yang tertiup angin kepentingan pribadi.















