Muhammad Ali Yasin (Sekertaris Komisariat PMII Universitas Ibrahimy)
ISSUE, Opini. Hari itu, jalanan Jakarta dipenuhi lautan manusia. Ribuan rakyat berkumpul dalam aksi damai, menyuarakan aspirasi yang lama diabaikan: suara para pekerja, suara para pengemudi ojek online—“kang ojol”—yang setiap hari menembus panas dan hujan demi sesuap nasi. Mereka datang bukan untuk membuat kekacauan, melainkan menuntut keadilan dan kehidupan yang lebih layak.
Namun kenyataan yang mereka terima justru sebaliknya. Aparat keamanan, yang seharusnya mengayomi, berubah menjadi mesin represi. Bentakan, pentungan, gas air mata dan yang paling keji, sebuah kendaraan taktis melaju dan melindas tubuh seorang demonstran beratribut ojol. Adegan itu terekam jelas oleh kamera. Bukan rekayasa. Bukan hoaks. Fakta berdarah yang mengguncang nurani bangsa.
Siapa yang memberi perintah? Siapa yang membenarkan bahwa ban kendaraan negara boleh melindas rakyat yang sedang menyuarakan haknya?
Tindakan ini bukan sekadar pelanggaran prosedur. Ini adalah penghinaan terhadap martabat manusia. Ini adalah pembunuhan atas karakter demokrasi. Ketika rakyat tak lagi bisa menyuarakan aspirasi tanpa risiko dilukai, bahkan dilindas, maka saat itu kita sedang menyaksikan lahirnya kekuasaan yang takut pada suara kebenaran.
Jaket hijau itu bukan simbol perlawanan, melainkan simbol perjuangan hidup. Dan ketika jaket itu tergeletak di aspal berlumur darah, kita tidak hanya kehilangan satu nyawa kita kehilangan rasa aman, rasa percaya, dan kemanusiaan.
Kami tidak akan diam. Kami menuntut keadilan. Sebab jika hari ini satu kang ojol bisa dilindas tanpa pertanggungjawaban, maka besok bisa giliran siapa saja dari kita. Negara yang membiarkan hal itu terjadi adalah negara yang telah gagal menjalankan tugas utamanya: melindungi segenap bangsa Indonesia.
Sumber Berita : PK PMII UNIVERSITAS IBRAHIMY