Issue, Bondowoso – Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus mengakselerasi Program Bongkar Ratoon Tahun 2026 dengan target pengembangan dan peremajaan tanaman tebu seluas 2.352 hektare. Program ini menjadi bagian dari langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas tebu rakyat sekaligus mendukung target swasembada gula nasional.
Wakil Bupati Bondowoso As’ad Yahya Syafi’i mengatakan, program bongkar ratoon tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi gula, tetapi juga menjadi upaya memperkuat daya saing sektor perkebunan tebu yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat pedesaan.
Menurutnya, tanaman tebu yang telah mengalami beberapa kali masa panen cenderung mengalami penurunan produktivitas sehingga perlu diremajakan agar hasil produksi kembali optimal.
“Kegiatan hari ini adalah langkah nyata Kabupaten Bondowoso dalam mendukung Program Strategis Nasional Pemenuhan Swasembada Gula 2026. Swasembada gula sangat krusial untuk mewujudkan kedaulatan pangan, menekan impor, menjaga stabilitas harga, serta meningkatkan kesejahteraan para petani,” ujarnya.
Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, Kementerian Pertanian, PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), PG Prajekan, penyuluh pertanian, dan kelompok tani tebu di berbagai wilayah Bondowoso.

Selain peremajaan tanaman, pemerintah juga mendorong penggunaan varietas unggul, pengelolaan lahan yang lebih baik, serta pemanfaatan teknologi budidaya guna meningkatkan hasil panen petani.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bondowoso Mulyadi, S.P., M.M. menjelaskan bahwa hingga 18 Juni 2026 capaian program telah mencapai 797,789 hektare atau sekitar 33,92 persen dari target keseluruhan.
Ia menilai progres tersebut menunjukkan antusiasme petani dalam mendukung program peremajaan tebu yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas antara 15 hingga 30 persen dibanding tanaman ratoon yang sudah tua.
Menurut Mulyadi, keberhasilan program ini juga akan berdampak langsung terhadap ketersediaan bahan baku industri gula, khususnya bagi PG Prajekan yang menjadi salah satu pabrik gula utama di wilayah Bondowoso.
Pada musim giling tahun 2026, PG Prajekan menargetkan produksi gula mencapai 5,5 juta kuintal dengan rendemen rata-rata 7,62 persen, meningkat dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi di lapangan, mulai dari kebutuhan benih unggul, keterbatasan modal petani, hingga faktor cuaca yang memengaruhi pola tanam. Karena itu, pendampingan dan penguatan kemitraan terus dilakukan agar target yang telah ditetapkan dapat tercapai.
Melalui Program Bongkar Ratoon Tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Bondowoso berharap produktivitas tebu rakyat semakin meningkat, kesejahteraan petani terus membaik, dan kontribusi daerah terhadap swasembada gula nasional semakin besar.

















