ISSUE, Bondowoso — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan sekitar tiga bulan di TK Nurul Islam Grujugan Kidul, Kabupaten Bondowoso melalui SPPG Grujugan Kidul mulai menunjukkan dampak nyata terhadap pola konsumsi dan kebiasaan siswa di lingkungan sekolah. Salah satu perubahan yang paling terlihat adalah berkurangnya kebiasaan anak-anak membeli jajanan tidak sehat di luar sekolah.
Perubahan tersebut dirasakan setelah MBG rutin diterima siswa setiap hari sekolah. Anak-anak kini lebih terbiasa mengonsumsi makanan bergizi yang disiapkan melalui program pemerintah, sehingga ketergantungan terhadap jajanan instan perlahan berkurang.
“Yang paling nampak yang nomor satu mungkin anak-anak mengurangi jajan ciki-ciki yang kurang sehat di luar,” ujar Novi Tri Agustin, guru RA Nurul Hasan Kejawan, Grujugan, saat ditemui usai kegiatan MBG, Senin (12/1/2025).
Menurut Novi, setelah adanya MBG, kondisi anak-anak di sekolah jauh lebih siap mengikuti kegiatan belajar karena sudah mengonsumsi makanan bergizi sejak pagi. Hal ini berbeda dengan kondisi sebelumnya ketika sebagian siswa masih mengandalkan jajanan ringan sebagai asupan utama.
“Jadinya anak-anak itu di sekolah sudah kenyang dengan makanan yang real food, bukan makanan olahan,” kata Novi, yang juga tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah, IAI At-Taqwa Bondowoso.
Dari sisi respons siswa, program MBG juga mendapat sambutan positif. Anak-anak menunjukkan antusiasme yang cukup tinggi terhadap makanan yang dibagikan setiap hari.
“Kalau dari siswa, kebanyakan bisa dibilang 70 persen senang,” ujarnya.
Antusiasme tersebut bahkan terlihat dari sikap anak-anak yang mulai lebih menghargai makanan. Novi menyebut, beberapa siswa membawa kotak makan sendiri dari rumah untuk menyimpan sisa makanan yang belum habis.
“Sampai anak-anak itu responnya senangnya bisa bawa kotak makan dari rumahnya jika masih ada sisa yang belum dimakan di sekolah,” tuturnya.
Dalam pelaksanaannya, program MBG di RA Nurul Hasan dijalankan dengan pengawasan ketat dari para guru. Guru berperan sejak awal kedatangan makanan hingga memastikan seluruh siswa menerima porsi yang layak.
“Peran guru sangat besar karena guru mengecek pertama awal MBG datang itu makanan layak apa tidak, lalu memastikan setiap anak dapat,” kata Novi.
Selain pengawasan di sekolah, komunikasi dengan orang tua juga terus dilakukan agar program berjalan selaras. Koordinasi dilakukan melalui grup paguyuban wali murid.
“Di grup WA paguyuban, ibu guru menginstruksikan untuk saling bekerja sama mengecek apa yang sudah anak-anak terima di sekolah,” ujarnya.
Novi berharap kebiasaan mengonsumsi makanan sehat yang mulai terbentuk melalui MBG dapat terus berlanjut, tidak hanya selama program berlangsung, tetapi juga menjadi kebiasaan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.















