Oleh: Alfandy Dzulqornain* (Mahasiswa Aktif IAI At-Taqwa Bondowoso)
ISSUE, Karya Tulis. Kata “Organisasi” sering kali diasosiasikan dengan hubungan antar manusia. Karena dalam organisasi terjadi hubungan interpersonal antar individu.
Namun, apakah seseorang yang tidak ikut organisasi itu bisa dikatakan tidak mampu bersosial dengan baik? Dan bagaimana mereka berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari?
Manusia tidak hanya bergantung terhadap suatu wadah yang memiliki esensi kegiatan bersosial, mereka memiliki kepribadian yang juga berpotensi dalam bersosialisasi. Terkadang mereka yang tidak sibuk dengan bersosial bukanlah anti sosial, hanya saja mereka tidak memiliki toleransi terhadap drama-drama, lebih mencintai ketulusan, menjalani kehidupan sehari-harinya secara realistis juga lebih memilih kualitas daripada kuantitas dalam berhubungan.
Faktanya ada oknum yang terlalu berisik terhadap pengakuan dengan sebuah prestasi yang tak memiliki esensi, makna dari suatu tindakan yang dilakukan. Perlu kita ingat bahwa ada perpaduan yang sangat tajam, cukup baik dalam menumbuhkan rasa bersosial di dalam kepribadian seseorang, yaitu orang yang pada awalnya tidak tertarik terhadap organisasi, fokus terhadap realistis kehidupan namun, mencoba meleburkan diri kedalamnya.
Berorganisasi bukan hanya tentang merawat sikap bersosial yang baik dan memang tidak menjanjikan kesuksesan. Namun, banyak hal di dalamnya yang dapat dijadikan sebagai pengalaman dan salah satu langkah untuk membentuk kualitas kepribadian yang baik. Sebuah saran dari pemuda untuk pemuda, kita tak perlu takut terhadap hal yang negatif dalam berorganisasi, cukup memiliki niat yang baik, tujuan, selebihnya hati-hati dalam melangkah. Karena tak sedikit pemuda menjalani hari-harinya tidak sesuai dengan harapan agama dan bangsa. Daripada kita melakukan kegiatan yang sia-sia atau bahkan memiliki nilai yang negatif, lebih baik kita ikut melebur diri kepada kegiatan bersosial seperti organisasi. Meskipun tidak semua manusia menjalani kehidupan yang kurang bermakna, alangkah lebih baiknya kita sibuk-kan diri dengan hal ini, sebagai sikap waspada kedepannya.
Dapat disimpulkan bahwa menjalani kegiatan bersosial tergantung terhadap titik fokus yang bermakna, tidak sekedar demi validasi untuk eksistensi yang tak memiliki esensi sebagai penyetaraannya.
*): Penulis juga merupakan Mahasiswa Aktif Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) IAI At-Taqwa Bondowoso dan anggota aktif Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Averroes.