Siapa Sesungguhnya Musuh Rakyat: Polisi di Jalan atau Politikus di Gedung?

- Wartawan

Senin, 1 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yuski Fausi Al Faruq (WK 1 Kaderisasi PK PMII STKIP PGRI Situbondo) 

ISSUE, Opini. Demonstrasi yang melanda Jakarta dan daerah-daerah akhir-akhir ini pada mulanya merupakan ekspresi sah rakyat untuk menuntut keadilan. Tuntutannya jelas: penghentian privilese DPR, pembatasan tunjangan yang mencederai akal sehat publik, serta keberpihakan kebijakan pada kebutuhan riil masyarakat.

Namun yang mencuat dalam wacana publik justru bukan substansi itu, melainkan kericuhan jalanan: bakar ban, pagar dijebol, dan bentrokan dengan aparat. Pertanyaannya, mengapa demikian? Logika sederhananya, ini yang disebut sebagai strategi politik pengalihan isu (issue diversion). Alih-alih berhadapan langsung dengan rakyat dan menjawab kritik substantif, elit politik mendorong agar panggung perlawanan bergeser. Polisi dipanggil ke garis depan, bentrokan dipantik, lalu publik disuguhi tontonan “massa anarkis versus aparat penegak ketertiban.” DPR, yang sejatinya inti persoalan, aman berlindung di balik layar asap tersebut.

Kekuasaan memproduksi narasi dan menggeser opini publik melalui media. Fenomena itu kini nyata di Indonesia: media lebih sibuk menyoroti kericuhan, korban luka, atau kerusakan fasilitas umum ketimbang mendalami tuntutan pokok rakyat. Lantaran demikian, opini publik terbelah; ada yang menyalahkan massa, ada pula yang mengutuk aparat. Substansi awal, yaitu keserakahan politikus, lenyap ditelan kabut gas air mata.

Aparat kepolisian dalam hal ini bukan aktor otonom, melainkan alat. Mereka yang sejatinya juga bagian dari rakyat dipaksa menjadi tameng politik bagi DPR. Dua entitas rakyat akhirnya dipertemukan untuk saling melawan: masyarakat yang berteriak menuntut keadilan berhadapan dengan polisi yang diperintahkan menjaga stabilitas. Lantaran demikian, konflik berubah menjadi pertarungan semu—rakyat melawan rakyat—sementara elit politik bersembunyi, tertawa puas karena berhasil menghindar dari tanggung jawab.

Kondisi ini mengukuhkan diagnosis krisis legitimasi. Ketika lembaga perwakilan tidak lagi dipercaya, mereka mengandalkan strategi pengalihan: menukar isu substansial dengan isu keamanan. Politik lantas direduksi menjadi drama jalanan, bukan perdebatan kebijakan. Publik pun diarahkan untuk lupa pada DPR yang mewah, dan sebaliknya menyalahkan massa yang dianggap biang kerusuhan.

Namun, justru di titik ini kesadaran harus dipertajam. Rakyat perlu mengingat bahwa bentrokan dengan aparat hanyalah jebakan, bukan jawaban. Dengan demikian, strategi perlawanan mestinya diarahkan untuk menolak narasi pengalihan. Fokus harus kembali pada akar masalah: struktur politik yang korup, DPR yang gagal mewakili rakyat, serta elit yang bersembunyi di balik kekacauan. Jika tidak, siklus ini akan berulang: rakyat lelah, aparat tercaci, sementara DPR tetap aman. Demokrasi pun perlahan terkikis, berubah menjadi sekadar arena manipulasi, di mana aspirasi dibungkam, kebenaran disembunyikan, dan politik dijalankan bukan untuk rakyat, melainkan untuk melanggengkan privilese elit.

Lantaran demikian, esensi perlawanan bukan sekadar turun ke jalan, tetapi juga membongkar strategi busuk di balik layar asap itu. Karena pada akhirnya, bentrokan di jalan hanyalah ilusi. Musuh yang sebenarnya bukan polisi yang berdiri dengan tameng, melainkan politikus busuk yang bersembunyi di balik tameng itu.

Berita Terkait

Ratusan Santri Ramaikan Porsadin VII Probolinggo, FKDT Bidik Prestasi Nasional
Mahasiswa KKN Universitas Bondowoso Gelar Sosialisasi: Stop Perundungan di SDN Pakisan 05 Tlogosari
UNIBO Luncurkan KKN 2026 di Tlogosari, Dorong Transformasi Digital hingga Tingkat Desa
Dewan Pendidikan Minta Temuan Lapangan Tak Berhenti Jadi Catatan, Bupati Didorong Percepat Pembenahan Pendidikan
Didukung Dispendik, Korwilcam Bondowoso Mulai Gerakan Seribu Buku Karya Murid
HAN 2026 Dimanfaatkan Semangka Balap Bondowoso Kampanyekan Gemar Makan Buah Lokal Sejak Dini
FKIP UNEJ Perkuat Kompetensi Guru SMK PPN 1 Tegalampel Lewat Workshop Pembelajaran Inovatif
PEMBERSATU Bondowoso Perkuat Gerakan Pemuda Peduli, Satukan Bakti Sosial, Mahasiswa KKN, dan Wakil Rakyat

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 03:36 WIB

Ratusan Santri Ramaikan Porsadin VII Probolinggo, FKDT Bidik Prestasi Nasional

Jumat, 7 Agustus 2026 - 03:45 WIB

Mahasiswa KKN Universitas Bondowoso Gelar Sosialisasi: Stop Perundungan di SDN Pakisan 05 Tlogosari

Senin, 27 Juli 2026 - 13:38 WIB

UNIBO Luncurkan KKN 2026 di Tlogosari, Dorong Transformasi Digital hingga Tingkat Desa

Senin, 27 Juli 2026 - 13:27 WIB

Dewan Pendidikan Minta Temuan Lapangan Tak Berhenti Jadi Catatan, Bupati Didorong Percepat Pembenahan Pendidikan

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:30 WIB

Didukung Dispendik, Korwilcam Bondowoso Mulai Gerakan Seribu Buku Karya Murid

Berita Terbaru