Jejak Hijrah, Jejak Perjuangan Hidupkan Cahaya Dakwah

- Wartawan

Senin, 15 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dr. Suheri, S.Pd.I., M.Pd.I.

(Ketua Dewan Pendidikan Bondowoso & Dosen Universitas At-Taqwa)

Issue, Karya Tulis — Di balik datangnya Tahun Baru Hijriyah, sesungguhnya ada pesan besar yang sering kali luput dari perhatian kita: tentang keberanian untuk berubah, keteguhan dalam memperjuangkan kebenaran, dan keikhlasan dalam mengorbankan kenyamanan demi ridha Allah. Hijrah Rasulullah SAW bukan sekadar perpindahan dari Makkah ke Madinah, tetapi perjalanan penuh luka, air mata, ancaman, dan pengorbanan yang menjadi tonggak kebangkitan Islam. Rasulullah SAW meninggalkan tanah kelahiran yang beliau cintai bukan karena mencari dunia, melainkan demi menjaga cahaya dakwah agar tetap hidup di muka bumi.

Momentum Muharram seharusnya tidak hanya berhenti pada seremonial, pawai, festival, atau tradisi tahunan semata. Semua itu tentu layak diapresiasi sebagai bentuk kecintaan umat terhadap syiar Islam. Namun yang lebih penting adalah bagaimana semangat hijrah itu benar-benar masuk ke dalam hati dan perilaku kita. Sebab hijrah yang paling sulit bukan berpindah tempat, melainkan berpindah dari malas menjadi ikhlas, dari lalai menjadi sadar, dari cinta dunia menuju cinta akhirat.

Ketika kita membaca sejarah perjuangan Rasulullah SAW, rasanya malu jika hari ini kita merasa sudah banyak berjuang untuk Islam hanya karena menulis satu dua status, menghadiri satu majelis, atau berbicara sedikit tentang agama. Padahal Rasulullah SAW menghadapi hinaan, boikot, ancaman pembunuhan, bahkan harus kehilangan orang-orang tercinta dalam perjalanan dakwahnya. Dalam perang Badar beliau sampai berdoa dengan penuh harap:

“Ya Allah, jika pasukan ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah lagi di bumi.”

Doa itu menunjukkan betapa beratnya perjuangan menjaga agama ini tetap hidup. Islam yang hari ini kita rasakan dengan nyaman ternyata dibangun di atas pengorbanan luar biasa para nabi, sahabat, ulama, dan orang-orang saleh terdahulu.

Hari ini dakwah jauh lebih mudah. Mikrofon sudah tersedia, kendaraan siap mengantar, media sosial bisa menjangkau ribuan manusia hanya dalam hitungan detik. Tetapi ironisnya, kemudahan itu terkadang tidak sebanding dengan kesungguhan kita. Ada yang mudah mengeluh saat diminta berdakwah, ada yang lebih sibuk mencari pujian manusia daripada mencari ridha Allah, bahkan ada yang tanpa sadar merendahkan nilai-nilai Islam demi diterima lingkungan. Padahal perjuangan kita masih belum ada apa-apanya dibanding perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat.

Karena itu, Muharram seharusnya menjadi waktu untuk bertanya kepada diri sendiri:

“Apa yang sudah aku berikan untuk Islam?”

Kalau belum mampu berdakwah dengan ilmu, mungkin kita bisa dengan tenaga. Kalau belum mampu dengan tenaga, mungkin dengan harta. Kalau belum punya semuanya, setidaknya dengan akhlak yang baik dan doa yang tulus. Seorang ayah bisa berdakwah kepada keluarganya dengan kasih sayang dan teladan. Guru berdakwah lewat kesabaran mendidik muridnya. Dosen melalui ilmu dan integritasnya. Pemimpin melalui keadilan dan kebijaksanaannya. Bahkan senyuman, kejujuran, dan kepedulian kepada sesama pun bisa menjadi bagian dari dakwah.

Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa dakwah bukan sekadar berbicara, tetapi memahami manusia yang diajak berbicara. Beliau bersabda:

خَاطِبُوا النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُولِهِمْ

“Berbicaralah kepada manusia sesuai kadar kemampuan akal mereka.”

Karena itu dakwah harus menghadirkan kelembutan, bukan hanya semangat. Anak-anak membutuhkan bahasa yang hangat, masyarakat awam membutuhkan penjelasan yang sederhana, sedangkan kalangan intelektual membutuhkan dialog dan pemikiran yang mendalam. Dakwah bukan tentang merasa paling benar, tetapi tentang bagaimana kebenaran itu sampai dengan cara yang menenangkan hati.

Tahun Baru Hijriyah juga mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang istiqamah. Jangan menunggu menjadi sempurna untuk mulai memperbaiki diri. Sebab para sahabat pun dahulu bukan manusia tanpa dosa, tetapi mereka adalah manusia yang mau terus belajar, berjuang, dan memperbaiki diri di jalan Allah.

Maka di tahun baru ini, mari berhijrah perlahan. Hijrah dari hati yang mudah mengeluh menuju hati yang pandai bersyukur. Hijrah dari ibadah yang lalai menuju ibadah yang lebih tulus. Hijrah dari merasa paling baik menuju lebih banyak introspeksi diri. Sebab boleh jadi yang membuat seseorang mulia di sisi Allah bukan karena banyak bicara tentang agama, tetapi karena diam-diam ia menjaga keikhlasan dalam memperjuangkannya.

Muharram bukan sekadar pergantian angka tahun. Ia adalah panggilan jiwa untuk kembali menghidupkan semangat perjuangan Rasulullah SAW di zaman yang semakin sibuk mengejar dunia, namun sering lupa tujuan pulangnya.

Tentang Penulis:

Dr. Suheri, S.Pd.I., M.Pd.I merupakan Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Bondowoso yang memiliki perhatian besar terhadap pengembangan pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Selain aktif mengemban amanah di Dewan Pendidikan, ia juga mengabdikan diri sebagai dosen di Universitas At-Taqwa Bondowoso. Melalui dunia akademik dan pengabdian sosial, ia terus berupaya menanamkan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, serta membangun generasi yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing di tengah perkembangan zaman.

Berita Terkait

UNIBO Luncurkan KKN 2026 di Tlogosari, Dorong Transformasi Digital hingga Tingkat Desa
Dewan Pendidikan Minta Temuan Lapangan Tak Berhenti Jadi Catatan, Bupati Didorong Percepat Pembenahan Pendidikan
Didukung Dispendik, Korwilcam Bondowoso Mulai Gerakan Seribu Buku Karya Murid
HAN 2026 Dimanfaatkan Semangka Balap Bondowoso Kampanyekan Gemar Makan Buah Lokal Sejak Dini
FKIP UNEJ Perkuat Kompetensi Guru SMK PPN 1 Tegalampel Lewat Workshop Pembelajaran Inovatif
PEMBERSATU Bondowoso Perkuat Gerakan Pemuda Peduli, Satukan Bakti Sosial, Mahasiswa KKN, dan Wakil Rakyat
Universitas Bondowoso Siapkan KKN Berbasis Dampak, Mahasiswa Diminta Tinggalkan Warisan Pembangunan di Desa
Kader PMII Ahmad Nawawi Terpilih Pimpin Aliansi Eksekutif Bondowoso, Usung Gerakan Mahasiswa yang Berdampak bagi Daerah

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 13:38 WIB

UNIBO Luncurkan KKN 2026 di Tlogosari, Dorong Transformasi Digital hingga Tingkat Desa

Senin, 27 Juli 2026 - 13:27 WIB

Dewan Pendidikan Minta Temuan Lapangan Tak Berhenti Jadi Catatan, Bupati Didorong Percepat Pembenahan Pendidikan

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:30 WIB

Didukung Dispendik, Korwilcam Bondowoso Mulai Gerakan Seribu Buku Karya Murid

Sabtu, 25 Juli 2026 - 02:28 WIB

HAN 2026 Dimanfaatkan Semangka Balap Bondowoso Kampanyekan Gemar Makan Buah Lokal Sejak Dini

Jumat, 24 Juli 2026 - 10:13 WIB

FKIP UNEJ Perkuat Kompetensi Guru SMK PPN 1 Tegalampel Lewat Workshop Pembelajaran Inovatif

Berita Terbaru

Berita

AKBP Wahyu Hidayat Resmi Pimpin Polres Pamekasan

Jumat, 31 Jul 2026 - 05:41 WIB