Issue, Bondowoso — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bondowoso mencatat peningkatan realisasi anggaran hingga akhir Juli 2026. Setelah berada di angka 35,6 persen pada semester pertama, serapan anggaran Dinkes kini telah melampaui 40 persen.
Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Komisi IV DPRD Bondowoso. Kepala Dinkes Bondowoso, dr. Moch. Jasin, menyebut apresiasi tersebut menjadi dorongan bagi jajarannya untuk menjaga sekaligus meningkatkan kinerja pengelolaan program kesehatan.
“Alhamdulillah, kami mendapat apresiasi dari Komisi IV terkait realisasi pendapatan maupun realisasi anggaran. Sampai semester pertama, serapan anggaran kami mencapai 35,6 persen dan sampai akhir Juli sudah di atas 40 persen,” ujar Jasin.
Menurutnya, tren tersebut menjadi dasar optimisme Dinkes dalam mengejar realisasi hingga penghujung tahun. Dalam pembahasan perubahan anggaran 2026, Dinkes juga melakukan penyesuaian terhadap target pendapatan dari unit pelayanan yang dikelola melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
Tambahan target pendapatan BLUD yang diproyeksikan mencapai Rp1,1 miliar menjadi salah satu poin dalam perubahan anggaran. Dinkes berharap potensi pendapatan tersebut dapat dioptimalkan seiring dengan peningkatan aktivitas pelayanan kesehatan.
“Kami optimistis pendapatan bisa terus meningkat. Untuk perubahan anggaran 2026, kami menambahkan target pendapatan dari BLUD sebesar Rp1,1 miliar. Untuk realisasi anggaran, kami juga optimistis bisa lebih tinggi dibandingkan capaian tahun sebelumnya,” jelasnya.
Peningkatan serapan anggaran sekaligus menempatkan Dinkes pada tantangan berikutnya, yakni memastikan percepatan belanja tetap berorientasi pada kebutuhan pelayanan. Sebab, tingginya realisasi anggaran tidak otomatis menjadi indikator keberhasilan apabila tidak diikuti peningkatan manfaat yang dirasakan masyarakat.
Untuk 2027, Dinkes mulai menyiapkan sejumlah agenda yang berkaitan dengan penguatan fasilitas maupun efisiensi pelayanan. Salah satunya adalah keberlanjutan pembangunan Puskesmas Tegalampel.
Pembangunan tersebut diharapkan dapat memperkuat akses masyarakat terhadap fasilitas kesehatan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan di wilayah Tegalampel.
Selain itu, Dinkes juga merancang penataan pelayanan kesehatan di Kecamatan Maesan. Salah satu opsi yang disiapkan adalah penyatuan pelayanan untuk menekan penggunaan sumber daya yang dinilai dapat diefisienkan.
“Kami juga merencanakan penyatuan pelayanan di Puskesmas Maesan. Harapannya nanti bisa lebih efisien terhadap sumber daya, baik sumber daya manusia maupun penggunaan listrik,” ungkap Jasin.
Rencana efisiensi tersebut menunjukkan bahwa Dinkes tidak hanya mengejar peningkatan kapasitas layanan, tetapi juga mulai mengevaluasi bagaimana sumber daya kesehatan dapat digunakan secara lebih efektif.
Di tengah target peningkatan pendapatan dan percepatan serapan anggaran, kebutuhan masyarakat tetap menjadi ukuran utama. Program kesehatan, pembangunan fasilitas, maupun pengelolaan BLUD pada akhirnya harus bermuara pada pelayanan yang lebih mudah dijangkau dan berkualitas.
Dengan serapan anggaran yang telah menembus 40 persen hingga Juli serta tambahan proyeksi pendapatan BLUD sebesar Rp1,1 miliar, Dinkes Bondowoso kini memiliki waktu hingga akhir tahun untuk membuktikan bahwa percepatan anggaran dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pelayanan.
Sebab, keberhasilan anggaran kesehatan bukan hanya soal seberapa cepat uang dibelanjakan, melainkan seberapa nyata manfaatnya kembali kepada masyarakat.


















