ISSUE.CO.ID, JAKARTA – Karya teater Curriculum Vitae, 2000 garapan sutradara Shohifur Ridho’i kembali mencatatkan prestasi. Setelah sukses dipentaskan di Yogyakarta pada Juli 2025, pertunjukan tersebut terpilih oleh tim kurator Djakarta International Theater Platform (DITP) 2026 untuk dipresentasikan dalam salah satu festival teater internasional paling bergengsi di Indonesia.
Pertunjukan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 8 Agustus 2026, pukul 19.30 WIB, di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Versi yang akan ditampilkan di DITP 2026 merupakan pengembangan dari pementasan sebelumnya. Tim produksi melakukan pendalaman dramaturgi, riset, serta pengayaan material artistik guna memperluas pembacaan terhadap ingatan kolektif mengenai teror “ninja” yang pernah terjadi di Jawa Timur pada penghujung Orde Baru hingga awal Reformasi.
Karya ini berangkat dari pengalaman generasi yang lahir di sekitar pergantian milenium. Melalui Curriculum Vitae, 2000, Shohifur Ridho’i mengajukan pertanyaan mendasar tentang bagaimana seseorang dapat dibentuk oleh peristiwa sejarah yang bahkan terjadi sebelum ia dilahirkan.
Ingatan keluarga, cerita-cerita kampung, rumor, arsip, tayangan televisi, kartun, hingga sepak bola dirangkai menjadi fragmen-fragmen yang saling bertaut. Semua elemen tersebut diolah menjadi bahasa panggung untuk menelusuri bagaimana sejarah bekerja melalui tubuh, bahasa, dan kehidupan sehari-hari.
Alih-alih menghadirkan rekonstruksi sejarah secara linear, pertunjukan ini bergerak di antara fakta, kesaksian, humor, fiksi, dan budaya populer. Beragam bentuk pertunjukan seperti teater, ludruk, kuliah-tari, musik, hingga permainan visual dipadukan untuk membuka ruang refleksi atas pengalaman kolektif masyarakat yang selama ini lebih banyak hidup sebagai ingatan daripada tercatat dalam sejarah resmi.
Kehadiran Curriculum Vitae, 2000 di DITP 2026 juga sejalan dengan tema kuratorial “(Men)Citra Niskala / Unseen (the) Map”, yang mengusulkan teater sebagai medium untuk membaca kembali wilayah, sejarah, dan relasi sosial melalui pendekatan “Antara sebagai Metode”. Dalam konteks tersebut, karya ini menawarkan cara pandang baru dalam memahami sejarah melalui pengalaman masyarakat serta peta-peta ingatan yang terus hidup di tengah kehidupan sehari-hari.
Pertunjukan ini diproduksi oleh rokateater, sebuah platform seni pertunjukan yang menjadi ruang pertemuan dan kolaborasi lintas disiplin. Rokateater konsisten mengembangkan karya-karya yang mengeksplorasi berbagai tema sosial, budaya, dan pengalaman generasi muda melalui pendekatan artistik yang eksperimental.
Curriculum Vitae, 2000 ditulis dan disutradarai oleh Shohifur Ridho’i, diproduseri Istifadah Nur Rahma, dengan penelitian oleh Raymizard Alifian Firmansyah.
Pertunjukan ini diperankan oleh Ahmad Aqil, Dwi Agustin Rahayu, Hofifah, Pupuh Hadi Mulya, dan Raymizard Alifian Firmansyah. Sementara itu, tim artistik diperkuat oleh Gata Mahardika sebagai skenografer, Sayosa sebagai komposer, Maharani Pane sebagai desainer tata cahaya, serta Khairul Umam sebagai operator suara.
Keikutsertaan Curriculum Vitae, 2000 dalam DITP 2026 menjadi pencapaian penting, tidak hanya bagi tim kreatif dan rokateater, tetapi juga bagi perkembangan seni pertunjukan Indonesia. Karya ini menunjukkan bahwa teater dapat menjadi ruang untuk merawat ingatan, mengajak publik berdialog dengan sejarah, serta menghadirkan perspektif baru terhadap pengalaman kolektif bangsa.


















